Bijaksana saat Berdakwah
BIJAKSANA SAAT BERDAKWAH
Ahmad Padilah
Dakwah merupakan sebuah ajakan kepada jalan yang Allah. ridhai dengan bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah.
Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Rasulullah SAW memulainya dari istri, keluarga, dan sahabat-sahabat karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah dari Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
Agar dakwah tepat sasaran, Alquran telah menunjukkan kaidah-kaidahnya, yang salah satunya dengan metode dakwah bil hikmah. Dalam potongan surah an-Nahl ayat ke-125. Artinya, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah .....” (an-Nahl: 125).
Ayat di atas diawali dengan kalimat perintah yang di tujukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajak semua manusia kepada jalan yang lurus yakni dinul islam. Maka ayat ini juga menjadi pelajaran penting bagi semua umat islam untuk menyampaikan dan mengajak orang lain agar menjadikan agama islam ini sebagai satu-satunya ajaran dalam kehidupan ini, serta menjalankan apa yang telah diperintahkan dan menjahui apa yang telah di larang oleh agama islam.
Dalam ayat tersebut juga menunjukan bahwa perintah menyeru umat manusia tanpa terkecuali terhadap jalan yang Allah ridhai dengan cara hikmah. Menurut Toto Tasmoro dalam bukunya Komunikasi Dakwah yang dikutip oleh Imam Dailami dalam jurnalnya Dakwah bil hikmah adalah menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.
Dengan demikian umat manusia dapat mengetahui bahwa Islam bukanlah racun yang merusak dan mematikan manusia, tetapi obat penawar yang menyembuhkan penyakit kemaksiatan dan kedurhakaan menjadi ketaatan dan ketundukan.
Berdakwah dengan hikmah (bijaksana) diwujudkan dengan menanamkan rahasia dan manfaat dari tiap-tiap sesuatu, baik dengan perkataan maupun tindakan. Dengan demikian, orang yang mendengar seruan dakwah bisa memahami dan mengakui kebenaran Islam.
Komentar
Posting Komentar